IMO #1: Design vs Infamous Name

    Vans lahir dari sebuah kultur kesederhanaan.

Dream about providing something non-mainstream and service for a deep americana simple fashion of footwear with reasonable price tumbuh menjadi sebuah budaya tersendiri, berkembang, dan hidup dalam hampir setiap pikiran kaum muda saat ini.

Diawali dengan attitude “fuck you”  Tony Alva kemudian berevolusi, jika harus saya definisikan, menjadi gaya hidup ala Vans! Setiap infamous band, infamous artisant, bahkan something that you don’t even know what it is (infamous) become more and more hype and more and more ridiculously better at taking victims.

Oke, sekarang akan dibahas antara totally design versus (yang gw definisikan) uncharacterized capitalism name

Beberapa design vans berkolaborasi dengan infamous artisant, sebutlah takahayashi, mr.cartoon, robt.william, neckface, etc. And… some others sold the name of people or a group of people (band). Price is the main reason, why? pernahkah terpikir betapa mahalnya sebuah franchise nama dibandingkan dengan sebuah design artistik yang merupakan representasi karya seorang seniman – saya bukan seorang seniman dan berbicara dari sudut pandang seorang penulis.

Hal inilah yang selalu terbayang dalam pikiran saya sebagai penyuka sneakers. Setiap hari  selalu bertanya, kenapa nama itu selalu menjadi barang mahal dan apakah orang yang rela mengeluarkan uangnya hanya untuk nama yang sama sekali tidak dikenal oleh orang lain itu sadar akan otentifikasi dan history dari nama itu sendiri, apakah hanya pikiran gw yang terlalu dihantui bahwa setiap desain adalah setiap jiwa, dan setiap sepatu punya jiwa yang-harusnya diwakili oleh desain yang tepat dan cukup berharga untuk dimiliki bahkan untuk orang yang tidak paham sneakers sama sekali.

Well, beberapa seri vault  merupakan sebuah karya seni dan tentunya diiringi dengan seri kolaborasi yang menyajikan sebuah sneakers “mahal”. Desainnya cukup mengasah otak, kenapa pakai material ini, kenapa di konsruksi ulang, kenapa hanya dirilis sedikit, kenapa berkolaborasi dengan brand yang hampir mati tapi memiliki kualitas premium dan seabreg pertanyaan lainnya, terarah, hanya untuk paham terhadap alasan “kenapa” gw harus mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sepasang sneakers.

Details is the most important thing, beberapa orang yang gw temui langsung tidak menyadari bahwa sepatu mahal mereka, ternyata terlalu sederhana. Gramasi canvas yang ringan, embriodery yang mudah sekali untuk dibuat, printing diatas canvas yang bahkan orang indonesia pun bisa membuatnya dengan cukup cepat dan rapih, consider that many of our people are higly creative and cheap, so the factory was built here.

Coba kita bandingkan dengan beberapa edisi yang menambahkan lubang kecil yang begitu banyak dan asimetris namun terlihat sweet, kemudian beberapa edisi menghilangkan, cenderung, menyamarkan aksen vans, menggunakan berbagai material aneh yang baru kita temui bahkan beberapa orang tidak tahu sama sekali bahan itu berjenis apa namun damn! its god damn good!

Reflective material, rare leather processing, heavier canvas, artisant signature artwork in slick embriodery, and even jazz stripe gimmick that suddenly if you are watching this closely its merely bones, not just ordinary jazz stripe. For how good it is, i apreciate for those vans designer.

Next, the counter opponent…
Oke, kita semua menyukai musik, apapun jenisnya, darimanapun itu berasal, etc. Untuk vans, an emerging youth culture is their commodity, itulah sebabnya kenapa perusahaan ini memenangkan pernghargaan dalam konteks the best small running company. What??? dengan massa sebanyak itu saja masih dikatakan demikian, what an odd, isn’t it?

Music adalah salah satu dari komoditas mereka. Band yang belum beranjak dari betapa kecil dan non-mainstreamnya meraka pada saat itu, menggunakan vans sebagai media promosi, dengan banderol harga yang cukup terjangkau, walaupun rilisan kuantitas promotional sneakers mereka tidak terlalu banyak. I admit it, this is the smart moves, considering that at that time, people/youth was blinded by music, not by the apparel/footwear. Langkah yang berani dalam menghadapi perjudian kenyataan, apakah mereka akan terkenal atau tenggelam dalam ramainya persaingan.

Langkah ini kemudian-entah apa yang sebenarnya terjadi- masih berlaku dan terus dilakukan. Oke! Metallica bahkan tidak terlalu membutuhkan Vans untuk menjadi sangat terkenal, ia kan? tapi, tetap melakukan kolaborasi, and i really appreciate it, because their do it for their promotional act and their diehard fans.

But, what about another infamous band? bahkan gw gak tw sampai saya penasaran nama itu sebenarnya apa. Coba tebak! beberapa edisi rilis secara ekslusif di sebuah negara dan kemudian menjadi komoditas kolektor, harga yang mahal, desain yang terlalu simpel, but fans are killing each other just to have it even only the left side

Nama sekali lagi menjadi komoditas dalam menarik korban just like the design. Bedanya, nama ini menjadi sebuah design tersendiri yang melahirkan sebuah kultus baru dalam dunia sneakers, kali ini Vans.

So, what is your choice ? design or name?

author: TesaYohan

Advertisements
This entry was published on August 30, 2013 at 1:57 PM. It’s filed under In My Opinion (IMO) and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: