JOL #2: Di Galunggung Part.1 (June 29th 2013)

13-14 Juni 2013: My Journal on A Mountain doing Stop Motion

Galunggung, hmm, apa yang harus saya ceritakan tentang galunggung ???
Let the Wiki speak for itself:

Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya. Terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain obyek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih 120 hektare di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Obyek yang lainnya seluas kurang lebih 3 hektar berupa pemandian air panas (Cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air panas.
Gunung Galunggung mempunyai Hutan Montane 1.200 – 1.500 meter dan Hutan Ericaceous > 1.500 meter.

Pada tanggal 12 Juni kemarin, entah apa yang mempengaruhi saya untuk membuat sebuah video stop motion gila menelusuri 620 anak tangga menuju puncak kawah Galunggung. Dari Bandung langsung saja berangkat berbekal tripod, kamera poket lo-fi pinjaman dan beberapa helai baju.

FYI: Kampung halaman saya terletak hanya 1 jam dari gunung Galunggung, dan tangga yang kamu lihat pada foto, terlihat seperti aliran sungai dari atap rumah. How fantastic it is…

Sampai kampung halaman bingung, bikin video stop motion, tapi siapa yang jadi modelnya ya? hmmm, daripada bingung, saya memutuskan untuk bercengkrama di bengkel lama, sebuah bengkel Vespa kecil di sisi jalan raya Rajapolah yang sudah turun temurun selama beberapa dekade melayani para skuter mania lokal.

Datang langsung kaget, kenapa ada anak gimbal oprek-oprek skuter. Setelah mengobrol dengan teman lama, akhirnya tahu kalau namanya adalah Yayan (Anak Gimbal), dan you know what? sejak kapan muka pas-pasan jadi alasan untuk menghentikan saya menjadikan si doi jadi model? ah sekalian aja deh first day-nya sama Dian, teman lama yang biasa jadi asisten dalam membangun Vespa masa SMA dulu.

Malam pun larut, dan balik ke rumah bukan opsi lagi, emang harus! haha.

13 Juni 2013, berangkat dengan skuter hijau kesayangan yang sengaja disimpan di kampung halaman untuk pergi kesana-kemari, maklum, imej anak skuter masih melekat. Jujur aja, sampai kuliah, saya cuma demen sama satu jenis motor, yaitu Vespa, dan akhirnya kemacetan Bandung memaksa untuk give up karena efisiensi kerja dan kuliah, xixixi.

Okei, back to story. Dian udah siap, motor udah siap, saya pun udah siap, sambil ngaso ngencengin baut velg, minum kopi dulu buat ekstra energi.

Oke Here We Go!
Menuju jalan raya, masih mulus aja, enak, motor stabil. Eitss, masuk jalan raya Cisayong, lha kenapa lewat sini? Ternyata ada jalan baru yang tembus lebih dekat menuju gunung Galunggung. Oke, masih mulus, sampai pada akhir jalan kecil menuju jalan baru itu, gilaaa?! aspalnya ancur! dan batunya gede-gede. This is an adventure to a mountain, what to expect man?


Ih, jalan baru mulus, kayak paha Roro Fitria. Beberapa menit, masuk jalan utama akses menuju gunung. dan damn!! lagi-lagi rusak. Karena truck pasir seharian lewat angkut ton-an pasir setiap harinya melewati jalan ini, mau gak mau, ya rusak, lha kontur jalan aja labil, tanahnya dasar vulkanik, ya wajar, yang penting seru. Udah lama gak menikmati adventure seperti ini di atas Vespa ini.

Oke, skip….

Nyampe juga akhirnya di bawah kaki gunung Galunggung, suasana hari pertama berkabut tapi tidak ada tanda-tanda hujan. Rehat sebentar ah sebelum naik jalanan terjal yang bikin deg-degan.

Masuk post, bayar karcis yang murah, bersiap naik jalan terjal… ngoeeeennggg. Si Vespa masih greng, tanjakan terjal dilibas santai. Vegetasi pakis di kiri kanan kayak membuat lu masuk sebuah dunia yang baru, sepi, dan jauh dari kebisingan, a whole new world. Rasanya damai walau Vespa berisik khas dua tak. Gerombolan tentara yang sedang latihan kita lewatin dengan santai dan santun, takutnya dibedil cui. hahaha…

Tanjakan terakhir, mesin mulai panas, sampai kehabisan nafas, akhirnya harus berhenti dan harus turun, kemudian berjalan kaki sejauh 50 meter menuju parkiran. Ahhhh…. fresh mountain air, foggy stairs, suasana yang sepi, its a dream-world for every odd-progressive-minded people like me.




Dimulai dengan photoshoot aneh, terus menelusuri anak tangga berkabut, langkah demi langkah, dilihatin pengunjung lain yang tidak terlalu banyak, dilihatin para tentara yang sedang latihan. Untungnya hati saya bisa berbangga setelah bagian dokumentasi pleton itu nanya lagi ngapain, dengan bangganya jawab, “Lagi bikin video untuk komunitas pak!”. Weitsss, sedikit termotivasi dan merasa jadi videographer profesional. hahahaha…

Terus dan terus motret, baru seperempat akhirnya kamera mati, lupa dicharge malam sebelumnya. haduh!!! terusin jalan keatas aja deh, sambil lihat megahnya gunung ini. Berkabut, tapi setelah beberapa lama hilang, wuiss, indah banget, sama seperti terakhir kesini, very monumental!

Turun ah, dan bersiap untuk hari berikutnya produksi stop motion yang entah kapan bisa diedit ini, hehehe.

Bersambung yaaa, biar gak kepanjangan…. 😀

author: TesaYohan

Advertisements
This entry was published on September 9, 2013 at 5:42 PM. It’s filed under Journal of Life (JOL) and tagged , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: