JOL #6.2: Local Talent, Interlocal Boy

Panggilannya “Dije” atau kalau harus disingkat agar terlihat sedikit lebih keren adalah “DJ”. Dia salah satu rekan di Yogyakarta, saling kenal karena pada beberapa waktu sebelumnya terlibat dalam “kongsi bisnis”, well its over, hanya berteman sekarang dan itu jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Datang ke Jokja dengan perbekalan minim, terpaksa harus cari penginapan yang disediakan secara sukarela oleh sejawat yang ada disana. Beruntung Dije itu adalah seorang store manager AffairsYK sekaligus juga skaters yang baik hati, bukan lebay ataupun berniat memuji agar diberi tumpangan gratis di kunjungan berikutnya, this dude is a great person, honestly!

Menginap di kamar kecil yang parkirannya penuh dengan motor tua titipan bos store, Dije dengan sumringah kasih saya majalah Happen edisi akhir 2011 yang ada foto dan ulasan dirinya, WOW! Masuk artikel special rookie dimana dia merupakah salah satu skater yang disorot pada saat itu.

Koq sampai sekarang hanya tahu kalau dia itu cuma storeman? Kuper karena sempat tertinggal beberapa edisi Happen, well ngaku, gak sampai sejauh itu mengikuti kegiatan skateboarding dengan avid membaca berbagai majalah dan beritanya, ya sedikit bergaya diplomatis yang cupu saya hanya bisa beralasan “Hanya menikmati aliran old-schoolnya saja bro!”. Haha…

Tertarik, lets bring up this issue, Dije harus dikenal oleh orang Bandung at least lewat Vansundan, WHY? Dia mempunyai darah sunda walau besar di Tanggerang. Hey! Its my personal story though to met and knew him as a skateboarder.

Saya sajikan interview ringan dengan pertanyaan yang mungkin bisa memberikanmu petunjuk tentang mengapa dia seorang “Dije”….

Oke, langsung aja, Rahdiyan Dwi Jayarana ya, main skate mulai kapan?
Main skate itu dari SMP kelas dua, sekarang udah kuliah semester tujuh…..berarti 8 tahun, lama yak ?!!

8 tahun main skate, ceritanya bisa masuk dunia skate? Dulu main PS (Playstation), THPS (Tony Hawk Pro Skater), maen itu tapi beli sepatu dulu waktu itu, Vans bajakan, gak tw tuh tipe Vans-nya apaan, nah terus beli papan seken yang harganya Rp 300.000 satu set terus maen dah. (Sejak kelas 1 SMA mulai pakai Vans ori)

Udah gitu doank? Dulu kebetulan itu ada komunitas skate di lapangan bola deket rumah, gw ikut sama mereka terus ketemu sama Indra Truna, ketemu sama Adi Pepermint, ketemu sama Amal, ketemu sama siapa lagi ya…?! Sama Jaka yang punya Grand Jakarta, ketemu Going, ketemu Diki Baok, Nah gw tuh besar di skate bersama mereka.

Tony Alva atau Stacy Peralta? Tony Alvaaa, arogan coi, radikal, terus ugal-ugalan…hahaha.

Berikutnya nih, Rodney Mullen dengan Ollie Mctwist atau Tony Hawk dengan Switch Darkslide? Tony Hawk aja, keren tuh, triknya susah…Kalau Mullen kan emang udah jago yak, emang udah aneh.

Eh, tapi Rodney Mullen Ollie Mctwist-nya di Vert lho! Oia? Emang dia pernah!?

Kan makanya gw tanya! Ya dua-duanya, sama-sama gak bisa dan susah itu, tapi gw pengen lihat Rodney Mullen Ollie Mctwist, kalau Tony Hawk masih bisa dia kayaknya, haha…

Di Jokja full time skating tau kerja di kota lain? Di Jokja full time skating.

Kenapa? Jokja skaternya edan-edan, besahaja, tapi tricknya kalau ngeluarin, beuhhh….

Hahaha, okei, terus tiba-tiba nih lu dibikinin Vert, Half Pipe sama Vans ceritanya, pas full speed keluar dari coping, naek tinggi banget, yang lu mau lakuin apa? Christ air! Biar Satanist…hahahaha.

Hahaha, yang bener nih jawabnya ah!!! Gw mau lakuin 900 deh, soalnya suka muter-muter, hahaha.

Pertanyaan terakhir nih, ceritakan yang akan terjadi sama dunia kalau tiba-tiba besok lu bisa Switch Kickflip Underflip! Gw bakalan langsung sholat.

Gak bukan itu pertanyaannya, lu salah nangkep, ahahaha. (???!!! Dije jadi kikuk dan kelihatan aneh)

Gw ulang lagi, besok lu bisa Switch Kickflip Underflip, tw kan? Nah besok itu lu berhasil landing di first try, kira-kira yang akan terjadi sama dunia itu apa ya? Jokja jadi negara sendiri, terus habis itu gw dapet mertua orang kaya…ahahahaha.

Interview yang ringan dan super aneh, Dije menguak jawaban atas dasar karakter dirinya sendiri yang tidak sama sekali disembunyikan. Di Yogyakarta, dia cukup sibuk, bolak-balik store, rapat dengan si bos pemilik store, juga bermain skate ketika hari mulai petang bersama rekan-rekannya di areal UGM.

Mungkin jadi terlalu serius kalau tulisan ini dilanjutkan sampai belasan paragraf lagi. Pada akhir tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan sebuah hal yang perlu kamu simpulkan sendiri, lho? ya betul, kesimpulan dari tulisan akan cukup berbeda, ini hanya sekadar perkenalan kembali bersama Dije yang dulunya punya sisi gelap jahat yang saya namakan “Gondrong”.

Keadaan cukup berbeda sejak kunjungan terakhir ke kota yang lebih panas dari Bandung ini.

Next post will be the otherside of the “Dije” via lo-fi photography, see you soon lur… 😀

words and photo by: TesaYohan

video by: Arto Distribution

Advertisements
This entry was published on October 3, 2013 at 2:30 PM. It’s filed under Journal of Life (JOL) and tagged , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: