#JOL 7.2: The Man Behind The Gun

Banyak imajinasi yang cukup tidak masuk akal sebelum bertemu dengannya. Ah mungkin putra tunggal dari seorang pensiunan jenderal bintang lima, makanya dia tertarik dengan menembakan peluru bulat kecil sebagai hobi.

Mungkin kembali ada prasangka kalau memang dia itu sosok yang sangat-sangat-sangat serius dan juga cenderung misterius.

Hey who knows except his friend!

Diluar semua tuduhan yang salah itu, cucu Harijadi Sumadijaja ini jauh dari apa yang saya bayangkan, jauh sekali untuk bisa digambarkan dengan satu buah spidol sharpie. Seorang mas-mas yang hidup mandiri dengan pekerjaan sampingannya sebagai fotografer. Menjalani komunitasnya dengan fun sebagai salah satu mahasiswa sastra inggris di sebuah perguruan tinggi. Gaya bicaranya cukup bisa dipahami, bahkan saya kayaknya tahu bakal jadi om-om seperti apa mas ini nantinya, love to laugh, smile and what a wonderful javanese person, very authentic.

Besar di lingkungan seni, tumbuh dan menjadi seperti sekarang ini dengan ayah seorang lulusan institut seni juga ibu dalam dunia tari. Ketika ditanya kenapa Vans? hanya ada jawaban singkat dari mulutnya sambil terkekeh manis, “Investasi Kepanjangan”. Dia suka akan seni dan Vans menyediakan itu dalam beberapa rilisan terbatasnya, menyukai Vans dengan artwork diatasnya, siapa yang tidak suka mas?!!! Haha.

Hanya ditumpuk saja, semua hal itu disimpan untuk dia lihat setiap hari, satu hobi yang tidak bisa kamu lukiskan dengan deskripsi teori, ibaratnya, saya saja kesal waktu smp ketika bapak saya sendiri malah mendahulukan koleksi perkutut dan burung kicaunya daripada saya, but hey!! Once again, its a man things and boys won’t understand a bit of it…

Di garasi terparkir sebuah oplet yang cukup familiar, mobilnya bang mandra dalam sinetron era 90an, “Si Doel Anak Sekolahan”. Kami duduk dan berbincang di sisi lain pagar rumah di siang hari yang cerah. Saya putuskan untuk mengambil foto simpel saja yang bisa menggambarkan siapa dirinya, tidak harus serius dengan semua gadget kakinya, tapi cukup dengan senyuman, sebuah foto lofi bisa memberitahu dunia dimana dia berada dibalik keramahan potret.

Interview cepat dan aneh saya dengan Perwira Aji di kediamannya, ramai dengan kehadiran anak-anak berseragam pramuka hilir mudik di lapangan seberang.

Jokja apa Kediri? Jokja, kota aku lahir disini

Matinya jatuh dari tangga atau jatuh dari sepeda? Jatuh dari sepeda, hobi, lebih terhormat, haha.

Dilempar sepatu atau ditembak air soft gun? Ditembak air soft gun, ada rasanya, lebih pedih, haha.

Sayang sepatu atau sayang pacar? Dua-duanya!

Pilih! Pacar, haha.

Kalau mas Wiro baik, saya dikasih sepatu apa sekarang? Nekcface!

YK-2-3

words and photos: TesaYohan

Advertisements
This entry was published on October 7, 2013 at 1:23 PM. It’s filed under Journal of Life (JOL) and tagged , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

One thought on “#JOL 7.2: The Man Behind The Gun

  1. Edyaan om wiro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: